Support Group Sebagai Salah Satu Bentuk Support System Ibu


thiscaringhome.org

Saya masih ingat jelas, bagaimana proses berkenalan dengan Support Group. Saat itu adalah ketika saya memiliki anak kedua. Saya berkesempatan mendatangi sebuah fasilitas Support Group di komunitas (Motherhope Indonesia). Dari sana saya sedikit banyak belajar tentang apa itu Support Group atau yang bisa kita singkat menjadi SG.

SG adalah tempat berkumpulnya sekelompok orang yang memiliki tujuan yang baik agar anggota dalam kelompok, dapat merasakan pengalaman yang positif dan kemudian bisa berdampak langsung dalam kehidupan sehari-harinya.

Dalam sebuah SG yang pernah saya datangi, saya menemukan fakta yang sangat menarik. Selain menjadi tempat untuk membagi informasi, edukasi dan tempat yang netral serta kondusif untuk berdiskusi. SG juga menjadi sebuah fasilitas yang mendukung ibu untuk bisa berdaya dan sejahtera baik secara fisik maupun mental, dalam menjalani perannya dirumah.

Tak bisa dipungkiri bahwa, ketika perempuan mulai menjalani fase terpanjangnya yaitu hamil, melahirkan, menyusui dan mengasuh anak-anak, membutuhkan dukungan yang sangat besar. Terlebih, seluruh fase tersebut merupakan satu kesatuan dan masih saling berkaitan dalam hidup ibu. Adanya SG, memberikan keringanan bagi ibu untuk mencari dukungan selama menjalani siklusnya sebagai seorang ibu.

Selama menjalani fase panjang tersebut, akan selalu ada tantangan yang berupa stigma negatif dan bisa menyerang ibu kapan dan dimana saja. Disadari atau tidak hal tersebut akan membawa efek bagi ibu yang sedang berada dalam kondisi emosi tidak stabil karena berbagai faktor. Faktor yang kita bicarakan bisa terjadi : sebagai efek dari ketidakseimbangan hormon yang mempengaruhi perubahan kimiawi dalam tubuh, pernah mengalami kejadian-kejadian traumatis, berada dalam kondisi lingkungan keluarga/masyarakat yang masih kental akan budaya patriarki dan tentu masih banyak lagi faktor lainnya.

Hal-hal yang disebutkan tadi, tentu akan memberikan dampak bagi ibu, dan terkadang sampai membawa ibu pada sebuah keputusan yang mungkin tak masuk akal bagi orang lain. Saya rasa dengan adanya SG hal-hal yang tak diinginkan tadi, akan sangat memungkinkan untuk bisa diminimalisir. Karena pada dasarnya, manusia adalah makhluk sosial, yang membutuhkan uluran tangan orang lain ketika berada dalam kesulitan. Yang menjadi masalah adalah apakah bantuan tersebut tepat sasaran atau tidak. Oleh karena itu dengan adanya SG, diharapkan dapat memberikan bantuan dalam membentuk sebuah dukungan yang memang dikhususkan dan disesuaikan dengan kondisi tertentu pada ibu dan tentunya bisa tepat sasaran.

Support Group dibuat untuk dapat meningkatkan kembali kepercayaan dan nilai diri ibu yang sempat terkucilkan karena suatu keadaan tertentu. Sehingga ibu bisa menjalani proses kehamilannya dengan penuh kesadaran dan rasa syukur, ibu paska melahirkan juga dapat semakin berdaya karena merasa memiliki kemampuan untuk mengurus buah hatinya yang baru lahir dengan baik dan ibu menyusui dapat fokus untuk mengatasi masalah seputar menyusui, lalu kembali percaya diri ketika menyusui.

Saat ini, para profesional di bidangnya sudah banyak yang concern, terhadap kebutuhan akan SG bagi para ibu. Bahkan para penyintas atau orang-orang yang memiliki pengalaman melewati keadaan yang kritis, juga turut memberikan sumbangsih informasi yang bermanfaat untuk ibu, agar ibu merasa tidak sendiri dan bisa saling menguatkan, bersama ibu yang lain dalam sebuah SG. Hal ini merupakan sebuah keuntungan yang besar untuk para ibu yang juga memiliki pengalaman yang sama, dan ingin bangkit dari keadaan yang membuatnya merasa terpuruk.

Tujuan adanya sebuah SG adalah sebagai tempat untuk saling mendengarkan tanpa penghakiman, tempat untuk saling berbagi informasi tanpa harus menggurui, dan tempat dimana bisa mengedukasi sekaligus mendapatkan evaluasi yang bisa bermanfaat untuk sesama anggota SG. Support Group harus menjadi tempat yang netral, nyaman dan menenangkan bagi para anggotanya. Maka, bagi para anggota yang baru saja bergabung dalam sebuah support group mungkin bisa belajar menyampaikan kisah dengan empati, lalu menjadi pendengar yang baik, kemudian belajar untuk memberikan respon baik, apapun masalah yang sedang menjadi beban para anggota lainnya.

Seperti apa sih support group itu? Dalam kelas kehamilan, kelas edukasi postpartum, kelas parenting, kelas pijat bayi atau kelas menyusui bagi ibu dll, kita mungkin bisa menemukan SG. Dimana penyelenggara membuat SG dan memberikan ruang untuk para anggotanya untuk bisa saling berkisah dan mendengarkan pengalaman para anggota satu sama lain. Hadirnya educator/fasilitator dalam sebuah SG akan memberikan evaluasi terhadap seluruh kegiatan yang kita lakukan. Dan ketika SG usai, kita akan merasa membawa “sesuatu” yang bermanfaat dan berdampak positif untuk diri kita sendiri, sehingga bisa membawa pengaruh besar dalam peran kita sebagai ibu. Selain dalam kelas edukasi, kita bisa menemukan, membuat bahkan mengembangkan SG dalam sebuah komunitas.

Sekali lagi, Mungkin itulah mengapa sirkuit otak perempuan atau ibu bisa saling berkaitan. Saya rasa, hal itu merupakan upaya alamiah yang sudah dirancang oleh Allah sedemikian rupa, agar para ibu bisa melewati siklus panjang yang saling berkesinambungan dalam hidupnya juga. Insting “survivor” “motherhood”-lah yang kemudian mengokohkan segalanya. Dan dalam perjalanan siklusnya yang panjang itu, perempuan sangat butuh dukungan. Jika dukungan itu tak didapatkan dari suami atau keluarganya, maka mereka bisa mendapatkannya dalam sebuah Support Group.

Apakah kita bisa membentuk sebuah lingkungan masyarakat yang sadar bahwa ibu juga membutuhkan dukungan dan bantuan, bukan penghakiman dan stigma negatif? Bisa, dan mungkin semua itu berawal dari kesadaran diri kita sendiri.

Lalu, apakah para ayah/suami bisa ikut serta membantu dan mendukung proses perjalanan panjang para ibu? Untuk bab ini, mungkin akan saya bahas di lain kesempatan dan sesuai dengan tema yang lain ya. 

Demikian sekelumit pemahaman pendek saya, semoga bisa dipahami. Mohon maaf kalau ada kekeliruan dalam penafsiran saya yang kepanjangan ini.Hehehe. Selamat membaca, semoga bermanfaat. Tulisan ini, akan diposting juga dalam blog saya nanti. Terima kasih.

Salam,
(CIMI, Volunteer MHI, Co-Founder @rumah_arunika, Blogger and Mom of 3)

Comments

Popular posts from this blog

Ketika Sulung Perempuanku, Bertanya tentang Pubertas

6 Alasan Mengapa Ibu Harus Memijat Bayinya Sendiri