Bergeser dan Bergantian
![]() |
| credit photo ; jakartamotherhood.id |
Dan menurut pengamatanku sama Sevda, dia ini paling "bete" kalau udah disuruh ngalah sama adiknya saat sedang bermain. Ya seperti kita saat sedang melakukan sesuatu pekerjaan menyenangkan, lalu tiba-tiba ada orang lain yang meminta pekerjaan tersebut. Walaupun dengan tutur kata yang baik, tapi coba aja bayangin gimana rasanya? Sama? Of course! Begitu juga predikat "kakak" yang baru saja di sandang oleh anak pertama kita, jangan sampai hal tersebut menggeser semua kesukaan dan kesenangannya sebagai bagian dari tahap perkembangan hidup. Belajar berbagi memang baik, tapi tetap ada tahapan penting yang harus dilalui untuk mencapai kesepakatan bersama tanpa menyakiti kedua belah pihak.
Agaknya memang butuh trik yang menyenangkan agar kedua belah pihak bisa merasakan kepuasan pada setiap pilihan yang sudah diambil. Seperti contoh sederhana, saat adik bermain sepeda kemudian kakak mengeluarkan sepatu roda untuk dimainkan. Dimanapun kakak beradik itu tumbuh, setiap adik akan selalu suka dan penasaran dengan apa yang sedang dimainkan kakak. Yang tadinya adik asyik bermain sepeda, melihat si kakak sibuk bersiap dengan sepatu roda bisa jadi dia akan langsung berubah pikiran untuk ikut mencoba sepatu roda juga. Nah, ribet tapi nge-gemesin kan anak-anak itu. Hehehehe
Triknya gimana deh kalau udah kejadian macam itu? Kalau caraku sih, mengajak kakak untuk bekerja sama lebih dulu. Karena kan, dia yang paham cara berkomunikasi juga berdiskusi denganku sebagai ibunya. Aku berdiskusi dengan Sevda tentang bagaimana baiknya supaya adik tidak mengambil paksa sepatu roda dan tetap pada kegiatannya bersepeda. Aku memberi saran agar kakak bergeser dan meninggalkan sepatu rodanya sejenak, untuk beralih dan memainkan sepeda yang barusan digunakannya sambil berucap "Kalau gitu, adik boleh pake sepatu roda kakak, asal kakak boleh main sepeda adik ya? Jadi kita sama-sama tukeran mainan. Oke dik?!" Sevda mengatakan kalimat tadi dengan senyum dan tampang tulus.
Adiknya, yang memang pada dasarnya hanya ingin menjajal apa yang dipakai kakaknya otomatis akan merespon jika apa yang dilakukan kakak tersebut mengusik. Nah, kesempatan inilah yang kita gunakan untuk membujuk adik secara halus agar mau bergantian dalam bermain bersama dengan baik. Terbukti adik langsung melepas sepatu roda kakaknya dan berlari menuju sepeda yang sedang dinaiki kakak. Saat itulah kakaknya berkata "Oke, kalau adik nggak boleh pinjamkan sepeda kakak nggak akan maksa kok, kakak main sepatu roda lagi aja ya". Dan keinginan dari kedua bersaudara ini pun kembali berjalan dengan normal.
Jika kembali terulang kejadian yang sama, aku juga menggunakan trik agar si kakak bisa saling bergantian dengan mainannya. Apapun jenis mainan yang sedang mereka mainkan. Tetap dengan senyum dan tawa, agar berkesan hal ini adalah sesuatu yang menyenangkan. So, tak boleh ada yang merasa disakiti satu sama lain.
Well, sejauh ini pembelajaran yang kami gunakan ini masih efektif. Kalau toh ada eror, pasti kami akan melakukan evaluasi terhadap cara ini. Tapi yang jelas, apa yang kami lakukan memang tak selamanya benar, dan kami juga tak merasa benar sendiri. Anak-anak akan selalu memiliki banyak cara untuk menunjukkan pada orang tuanya bagaimana seharusnya pembelajaran dalam rumah itu berlangsung. Jadi, tetaplah pada track yang sudah mereka buat untuk kita.
Trial error adalah kewajaran asalkan ada evaluasi sebagai penyambung dan koreksi "kekeliruan" yang sering terjadi dalam proses sebuah pembelajaran dirumah.
Salam,
Ariny Rizkina
Agaknya memang butuh trik yang menyenangkan agar kedua belah pihak bisa merasakan kepuasan pada setiap pilihan yang sudah diambil. Seperti contoh sederhana, saat adik bermain sepeda kemudian kakak mengeluarkan sepatu roda untuk dimainkan. Dimanapun kakak beradik itu tumbuh, setiap adik akan selalu suka dan penasaran dengan apa yang sedang dimainkan kakak. Yang tadinya adik asyik bermain sepeda, melihat si kakak sibuk bersiap dengan sepatu roda bisa jadi dia akan langsung berubah pikiran untuk ikut mencoba sepatu roda juga. Nah, ribet tapi nge-gemesin kan anak-anak itu. Hehehehe
![]() |
| credit photo ; family.fimala.com |
Adiknya, yang memang pada dasarnya hanya ingin menjajal apa yang dipakai kakaknya otomatis akan merespon jika apa yang dilakukan kakak tersebut mengusik. Nah, kesempatan inilah yang kita gunakan untuk membujuk adik secara halus agar mau bergantian dalam bermain bersama dengan baik. Terbukti adik langsung melepas sepatu roda kakaknya dan berlari menuju sepeda yang sedang dinaiki kakak. Saat itulah kakaknya berkata "Oke, kalau adik nggak boleh pinjamkan sepeda kakak nggak akan maksa kok, kakak main sepatu roda lagi aja ya". Dan keinginan dari kedua bersaudara ini pun kembali berjalan dengan normal.
Jika kembali terulang kejadian yang sama, aku juga menggunakan trik agar si kakak bisa saling bergantian dengan mainannya. Apapun jenis mainan yang sedang mereka mainkan. Tetap dengan senyum dan tawa, agar berkesan hal ini adalah sesuatu yang menyenangkan. So, tak boleh ada yang merasa disakiti satu sama lain.
![]() |
| credit photo ; unknown source |
Trial error adalah kewajaran asalkan ada evaluasi sebagai penyambung dan koreksi "kekeliruan" yang sering terjadi dalam proses sebuah pembelajaran dirumah.
Salam,
Ariny Rizkina
(CIMI, Volunteer MHI, Co-Founder @rumah_arunika, Blogger and Mom of 3)



Comments
Post a Comment