Memasak dan Berkreasi Bersama Anak
![]() |
| Credit photo : ariny rizkina syamsuddin/www.lovingparentsdiary.blogspot.co.id |
"Bu, ternyata bikin makanan Korea kayak yang di kartun Masha itu mudah loh. Tinggal masukin isian terus dibungkus begini (sambil menggerakkan tangannya). Kita bikin yuk bu, tapi cari resepnya dulu di google ya!" Sevda say.
"Kak, tapi itu bukan makanan Korea. Tapi makanan yang asalnya dari Cina, namanya pangsit" Aku menjawab
"Ya, nggak apa-apa aku juga suka kok makanan dari Cina" Sevda mulai bicara untuk menguatkan alibinya
"Oke deh, ibu googling dulu resepnya"
Jadi begitulah percakapan emak dan anak di zaman digital ini. We search keywords to google. Many thanks goog. :D
Kami memang sama-sama suka mencari resep masakan terbaru via google, walau setelah ketemu resep makanan yang diinginkan, aku nggak langsung praktekin. Karena aku cukup sadar diri, bukan tipikal ibu yang bisa masak apalagi sampai hasilnya enak, kecuali tingkat kesulitan memasak menu itu berada di level 2-4. Itu juga masih tetep pake rumus untung-untungan sih. Hehehehe
So, setelah sekilas membaca resep pada akhirnya aku dihadapkan dengan pilihan mau lanjut malas-malasan seharian, atau berkreasi didapur bersama anak-anak. Dan akhirnya aku memilih kegiatan terakhir, diiringi banyak hal yang ikut bercampur dalam pikiran. Antara ngurusin orderan gojek botol jahenya ibuku, ngecek transferan untuk pelunasan barang yang sudah ditranfer suami atau belum, sambil mikir buat nerjemahin undangan ke bahasa inggris plus ngedengerin rengekan dan teriakan Sevda Bilge yang meminta ibunya untuk segera ganti baju demi belanja bahan-bahan untuk bikin pangsit. Hahahaha betapa riweuhnya kalau ditulis, yang untungnya hanya dapat terdeteksi didalam kepalaku saja.
Singkat cerita, setelah dapat bahan-bahan untuk keperluan membuat pangsit sama anak-anak, aku shalat dan langsung menuju dapur. Dengan aba-aba khas, aku meminta Sevda membersihkan sisa-sisa kegiatan bermainnya, sebelum membantu ibu di dapur. Tak lama, aku meminta Sevda dan Bilge untuk mencampur tahu, kuning telur, garam dan merica bubuk untuk dilumat sampai halus. Setelah sebelumnya meminta mereka untuk cuci tangan lebih dulu. Antusiasme jelas terlihat di wajah mereka berdua, Bilge dengan ekspresi girangnya juga sangat bersemangat mengadon bahan-bahan.
15 menit berlalu, adonan tahu siap di bumbui. Sevda menyiapkan pangsit yang sudah dibeli juga. Dan saat isian sudah jadi dan sudah agak dingin, kami memulai satu persatu langkah mengisi kulit pangsit. Honestly, membuat pangsit adalah pengalaman pertama, tak hanya untuk Sevda tapi juga buatku. Karenanya, dengan modal ingatan tata cara yang aku tonton di variety show Korea "Home Food Rescue" yang saat itu dipimpin oleh chef Paek, aku nekat sok-sokan bergaya. Hahahahaha
Kumpulan pangsit yang pertama berjumlah sekitar 15 buah, kami putuskan untuk memasaknya dengan cara direbus. 5 menit kemudian hasilnya? Mblenyek kabeeeh! Alias GAGAL! Hahahaha. Kami tertawa, sampai Sevda bilang "Nggak apa deh bu kita makan aja dulu yang ini. Nanti kita bikin lagi". Aku mengiyakan, kami memakan pangsit gagal yang pertama dengan hati girang walau itu adalah hasil yang gagal. Karena walau bentuknya hancur, ternyata rasanya nggak parah-parah amat. Dan ajaibnya, mengenyangkan!!! That's the point. Hahahaha
Kloter pangsit yang kedua, jumlahnya agak dikurangi. Hanya sekitar 8 buah saja. Kami putuskan merubah cara memasaknya dengan dikukus. Hasilnya? Bagus SIH bagian atasnya, TAPI bagian bawah kulit pangsit menempel di kukusan, sampai bisa membuat lubang besar di bagian bawahnya. Sevda melihat dengan geleng-geleng kepala. "Yaaaahhh, lumayan sih ya bu dari pada yang pertama" masih lumayan katanya. Bilge yang masih belum paham apa-apa hanya bisa memakan pangsit bolong dihadapannya (dengan rakus, teteeeep :D).
Baru kelompok terakhirlah, pangsit ala SevGe bisa berbentuk, walau masih jauh dari sempurna tentunya. Tapi kami sudah berakhir dengan kekenyangan karena memakan semua pangsit gagal dan semi gagal yang kira-kira berjumlah 23. Fiuuuhhhh, perasaan lega sekaligus engap karena kekenyangan jadi satu. Golongan pangsit mulus yang terakhir justru tak tersentuh sampai malam, Sevda mungkin sudah agak "mbelenek" dan Bilge sudah lupa gimana nafsu makannya saat siang. Alhasil, emak lagi aja yang makan pangsitnya. Saat aku bertanya sama Sevda "Susah nggak sih kak bikin pangsit itu, berdasarkan pengalaman memasak tadi siang?", "Nggak kok bu, kalau mau bagus bungkus pangsitnya berarti harus sering latihan aja".
Dan begitulah pelajaran Sevda akan 2 kali kegagalannya dalam memasak, membekas, juga menghasilkan kesimpulan sederhana. Apapun pilihan yang kita ambil, patutnya kita dapat menerima segala konsekuensinya, juga siapkan selalu semangat tambahan saat kita gagal. Agar hati bisa lekas move on dan diri bisa bekerja kembali dengan lebih baik. Pada akhirnya, hasil kerempongan memasak buat ibunya adalah, tempat yang bak kapal pecah belah, berantakan! Disinilah seni-nya menjadi ibu, yang diuji kesabaran lalu dikasih label di kepalan tangan "Being a Mother Need a Struggle". Jadi, untuk ibu-ibu di belahan bumi Indonesia, berbahagialah saat anak-anak menemukan jalan kreasinya dalam rumah. Karena siapa tahu, di masa depan itu bisa jadi salah satu bekal hidupnya. Dan keep setrong, karena nanti ada saatnya kok kita bisa istirahat (Ngademin hati sendiri). Hahahaha
Salam,
Ariny Rizkina
(CIMI, Volunteer MHI, Co-Founder @rumah_arunika, Blogger and Mom of 3)

Comments
Post a Comment