"Pengalaman Pertamaku Memijat Bayi"
Berawal dari kelahiran Sevda, sekitar hampir 5 tahun yang lalu.
Aku mulai rutin memijat sendiri anak perempuan sulungku itu. Berbekal ilmu
nyontek di tivi dan majalah, aku mulai gerakan memijat bayiku sendiri. Hari ke
3 setelah kelahiran Sevda ke dunia adalah hari dimana ASIku juga mulai mengalir
dengan deras. Lalu dengan lahapnya Sevda meneguk tetes demi tetes air kehidupannya. Hari itulah
aku mulai rutin menyentuh sulungku dengan gerakan ringan dan lembut mulai dari
ujung rambut sampai ujung kaki.
Semenjak memulai gerakan memijat bayiku sendiri dirumah,
alhamdulillah tak pernah ada masalah pencernaan yang serius. Selain karena
makanan utama Sevda baru ASI saja, saat perutnya mengalami kolik, pijatan pada
perut yang aku fokuskan ternyata mampu meredakan rasa tak nyaman dan rewelnya.
Saat itu aku belum tahu, jika sentuhan lembut dan rutin disertai dengan suara
lembut mamu meringankan kolik nya. Walau itu hanya sekedar pijatan sederhana.
Pengetahuan itu ada karena Sevda lah yang mengejariku untuk berinisiatif
demikian.
Aku bersyukur, Sevda memberikan kami (aku dan suamiku)
kesempatan untuk sama-sama belajar memijat bayi kami. Karena hal utama yang
kami dapatkan dari awal kami mengenal pijat bayi adalah kontak mata. Sedari
Sevda sudah mampu melihat dengan jelas, mata kami berdualah satu-satunya yang
selalu dia cari saat ada sesuatu yang hendak diutarakannya. Efek kontak mata
yang sering kami lakukan saat memijat Sevda, ternyata memberikan pengaruh yang baik
bagi kami. Pun sampai saat ini, Jika kami memanggil namanya, maka mata Sevda
akan dengan segera menatap mata kami.
Mungkin, memang sepele dan begitulah anak perempuan. yang menurut buku "Female Brain" disebutkan akan sering mencari dan menatap mata lawan bicaranya. Namun, kami bersyukur, bahwa kegiatan yang baik jika terus diulang akan membawa dampak yang baik. Kami meresakan betapa, hal sederhana seperti memijat bayi kami sendiri, dapat membawa pengaruh pada cara kami mengasuh dan menyayangi anak-anak perempuan kami. Jadi, jika ada yang bertanya "mbak Arin, ngajarin pijat bayi ke orang-orang, dulu bayinya dipijat sendiri juga nggak?". Dengan penuh keyakinan saya akan menjawab "Yes dear, sudah 5 tahun kami melakukan kegiatan ini".
Sevda sekarang hampir berusia 5, saat ingin mencari tempat bemanja, dia akan meminta ayah atau ibunya untuk memijat kakinya. Sembari mendengarnya berceloteh, kami berusaha menunjukan rasa kasih kami lewat kegiatan memijat. Tak lupa sembari menyelipkan beberapa cerita yang penuh dengan makna. Atau sekedar cerita canda ria. Dear parents, memijat kaki anak-anak tak akan mengurangi rasa homat mereka pada kita sebagai orang tua kok, tapi yang aku rasakan justru ikatan antara orang tua dan akan semakin berkembang. Pelajaran berharga itulah yang kami dapatkan dari kegiatan sederhana kami dirumah.
Mungkin, memang sepele dan begitulah anak perempuan. yang menurut buku "Female Brain" disebutkan akan sering mencari dan menatap mata lawan bicaranya. Namun, kami bersyukur, bahwa kegiatan yang baik jika terus diulang akan membawa dampak yang baik. Kami meresakan betapa, hal sederhana seperti memijat bayi kami sendiri, dapat membawa pengaruh pada cara kami mengasuh dan menyayangi anak-anak perempuan kami. Jadi, jika ada yang bertanya "mbak Arin, ngajarin pijat bayi ke orang-orang, dulu bayinya dipijat sendiri juga nggak?". Dengan penuh keyakinan saya akan menjawab "Yes dear, sudah 5 tahun kami melakukan kegiatan ini".
Sevda sekarang hampir berusia 5, saat ingin mencari tempat bemanja, dia akan meminta ayah atau ibunya untuk memijat kakinya. Sembari mendengarnya berceloteh, kami berusaha menunjukan rasa kasih kami lewat kegiatan memijat. Tak lupa sembari menyelipkan beberapa cerita yang penuh dengan makna. Atau sekedar cerita canda ria. Dear parents, memijat kaki anak-anak tak akan mengurangi rasa homat mereka pada kita sebagai orang tua kok, tapi yang aku rasakan justru ikatan antara orang tua dan akan semakin berkembang. Pelajaran berharga itulah yang kami dapatkan dari kegiatan sederhana kami dirumah.
So, pengalaman berharga inilah yang membuat kami memutuskan ingin membaginya dengan para orang tua. Dan akhirnya bulan April tahun 2016 kemarin, saya diberikan kesempatan untuk mengembangkan ilmu tentang infant massage secara mendalam, dan pada bulan Desember kemarin lulus ujian, untuk menjadi seorang CIMI (Certified Infant Massage Instructor). Kami sebagai seorang CIMI memiliki tujuan, untuk membantu dan memfasilitasi orang tua agar dapat berkembang menjadi lebih baik dalam perawatan dan pengasuhan bayi lewat kegiatan memijat. Karena proses pengembangan diri merupakan hak setiap ayah dan ibu yang berperan penting pada kehidupan bayi dan anak-anak mereka.
Salam,
Ariny Rizkina (CIMI, Volunteer MHI, Co-Founder @rumah_arunika, Blogger and Mom of 3)
Comments
Post a Comment