"Siapa Yang Berhak?"

Dalam kelas pijat bayi, baik kelas private atau pun kelas bersama siapakah yang berhak untuk menyentuh, memegang, dan melakukan kontak langsung dengan bayi? Hak sepenuhnya ada pada kedua orang tua bayi, yaitu ayah dan ibunya. Salah satu aturan dari organisasi IAIM, instruktur hanya di perbolehkan melakukan demonstrasi gerakan memijat, dengan model boneka yang menyerupai bayi.

Karena didalam kelas, sesungguhnya tugas seorang instruktur hanya memberikan fasilitas bagi ayah, ibu dan bayi mereka untuk saling belajar dan mengajarkan arti sebuah ikatan atau bonding attachment. Dan begitulah idealnya kelas dapat berjalan.

Bagaimana dengan praktek lapangannya? Beberapa kalangan masyarakat memang belum begitu familiar dengan kegiatan memijat bayi mereka sendiri. Saat terdapat sebuah fasilitas sekelas klinik tumbuh kembang bayi atau spa bayi, yang disediakan hanyalah layanan memijat bayi dan pelayanan diberikan oleh seorang terapis atau profesional. Bagi sebagian orang, memijat bayi mereka sendiri masih terbilang sebuah kegiatan yang asing.

Tak salah juga, karena promosi pijat bayi yang berkembang baik di televisi, media cetak atau sosial media menggambarkan fasiltas yang menyediakan terapis sebagai pihak yang memijat bayi mereka. Dan hal tersebutlah yang pada akhirnya berkembang sebagai kebutuhan, bahkan gaya hidup sebagian orang. Namun, masih sangat jarang fasilitas yang menyebutkan tentang manfaat dan pentingnya, kegiatan memijat bayi yang dilakukan oleh para orang tua dirumah.

Oleh karena itu, hadirnya instruktur pijat bayi ditengah-tengah kebutuhan masyarakat akan kegiatan pijat bayi sebagai salah satu sarana kesehatan yang modern sekaligus holistik, menjadi jawaban yang bisa diterima saat ini.

Bagi saya pribadi, tak mudah merubah paradigma masyarakat akan kegiatan memijat bayi. Karena khusus bagi masyarakat Indonesia sejak zaman dahulu, memang urusan pijat memijat bayi adalah urusan yang hanya bisa dilakukan oleh orang yang "mampu" dalam pandangan mereka. Dan belum menyadari essensi dari kegiatan memijat yang ternyata dapat dilakukan dirumah secara sederhana, oleh para orang tua.

Maka, saat pertama kali saya bertemu dengan orang tua, untuk bisa sama-sama membangun kepercayaan di kelas, saya akan mengajak orang tua bersama-sama menyentuh dan memijat terlebih dahulu bayinya. Baru setelah sedikit melakukan pemijatan di salah satu bagian tubuh bayi (misalnya tangan atau kaki bayi) bersama orang tua, saya akan menyarankan orang tua untuk melanjutkan pemijatan bayi mereka sendiri. Tentunya, saya kembali memberikan contoh gerakan yang ada pada panduan, lewat model boneka yang saya sentuh.

Hal ini, hanyalah sebagian kecil dari bagaimana proses pengenalan kegiatan pijat bayi yang selayaknya dan disesuaikan dengan kebutuhan orang tua. Selain untuk mendongkrak rasa percaya diri orang tua saat hendak mulai memijat bayi mereka, hal sederhana tadi juga bisa menjadi dasar untuk menanamkan kepercayaan pada instruktur. Perubahan kecil ini, saya kira tak akan merubah dasar aturan yang sudah ditetapkan. Karena toh, akan kembali pada muara yang sama saat kelas sudah dimulai.

Maka, hasil akhir dan pilihan kami kembalikan pada keputusan para orang tua. Apakah memilih untuk belajar memijat bayi dirumah atau memijat bayi di fasilitas spa, semua memiliki kelebihan masing-masing. Ketika orang tua sudah memahami dasar tersebut, maka semua akan siap belajar bersama pada waktunya.

Salam,

Ariny Rizkina
(CIMI, Volunteer MHI, Co-Founder @rumah_arunika, Blogger and Mom of 3)

Comments

Popular posts from this blog

Ketika Sulung Perempuanku, Bertanya tentang Pubertas

6 Alasan Mengapa Ibu Harus Memijat Bayinya Sendiri

Support Group Sebagai Salah Satu Bentuk Support System Ibu