Menanamkan Makna Toleransi Sejak Dini Melalui Pendidikan Dalam Keluarga



Menanamkan Makna Toleransi Sejak Dini Melalui Pendidikan Dalam Keluarga

credit photo : www.print-tugas.blogspot.co.id
Pendidikan berbasis keluarga sudah menjadi hal yang lumrah dijalankan oleh sebagian besar keluarga di Indonesia. Karena kita sebagai orang tua juga, sudah banyak yang menyadari tentang pentingnya nilai dan manfaat pendidikan usia dini yang bersumber dari keluarga. Salah satunya adalah mengenalkan sikap toleransi pada anak-anak.

Seperti yang sudah kita ketahui, Indonesia adalah sebuah negara yang terdiri dari banyak suku dan agama. Maka wajar saja, jika Indonesia menjadi salah satu negara yang disebut-sebut memiliki tingkat toleransi yang tinggi dalam setiap lapisan mayarakatnya. 

Namun akhir-akhir ini, wajah Indonesia yang kita kenal dengan budaya toleransi, perlahan mulai berubah. Karena beberapa oknum tak bertanggung jawab sedang berusaha memecah belah kesatuan bangsa lewat banyaknya penyebaran berita yang mengandung unsur kebencian terhadap agama dan suku tertentu di media sosial.

Sebagai generasi yang hidup di zaman perkembangan teknologi yang pesat, jelas akan sangat mudah bagi anak-anak kita terpapar berbagai informasi tentang fenomena intoleransi yang saat ini sedang marak terjadi. Padahal makna toleransi sejatinya merupakan sebuah cerminan kehidupan yang baik antara sesama manusia. 

Pekerjaan rumah bagi kita sebagai orang tua, salah satunya agar bagaimana anak-anak mendapatkan pengenalan, penanaman dan pengalaman tentang arti dan nilai-nilai toleransi pada sesama. Karena itulah, hal terpenting yang perlu disampaikan oleh orang tua dalam proses pengasuhan dan pendidikan anak dirumah, adalah bahwa dalam sebuah kehidupan sosial, sifat toleransi sebaiknya ditumbuh kembangkan bersamaan dengan pengendalian diri dan etika pada anak. Sehingga akan tercapai keharmonisan  hidup dalam keluarga dan bermasyarakat.

Sedangkan manfaat yang didapatkan dari pendidikan toleransi sejak dini, beberapa diantaranya adalah anak akan belajar menghargai perbedaan karakter setiap masing-masing anggota keluarga, menghargai perbedaan keyakinan yang ada di lingkungan sekitar, menghormati perbedaan pemikiran pada masing-masing individu, dan menstimulasi anak agar mampu berwawasan terbuka sehingga menghindari kecenderungan sifat "merasa diri paling benar" pada anak. 

Yang jelas, penghormatan anak terhadap arti dari perbedaan yang ada dilingkungan keluarga, sekolah dan kehidupan sosialnya bersama masyarakat akan mudah diterapkan jika pendidikan toleransi mulai ditanamkan sejak kecil. Sehingga diharapkan kelak mereka juga akan merasa memiliki andil besar dalam menjaga keutuhan, persatuan dan kesatuan bangsa.

Oleh karena itu, sebagai orang tua yang memutuskan untuk memberikan pendidikan moral, toleransi dan karakter anak-anak dirumah, ada baiknya menggunakan kesempatan dan jangkauan informasi yang luas di era digital seperti saat ini, untuk terus belajar, membuka cakrawala pemikiran dan bekerja keras agar pendidikan dalam keluarga dapat tercapai dengan baik dan maksimal.

Karena kebiasaan yang baik akan tertanam di jiwa anak-anak, jika keluarga terutama orang tua menjadikan hal baik tersebut sebagai kegiatan yang rutin dilakukan secara berulang dan konsisten. walau terlihat sulit, tapi bukan berarti tidak mungkin untuk dilakukan. Justru akan menjadi hal yang sangat membanggakan jika kita bisa berkontribusi dalam mensosialisasikan perdamaian dunia lewat pendidikan toleransi sejak dini yang ditanamkan dalam keluarga. 

*****

Catatan penulis,

Bagi saya pribadi, hubungan antara orang tua dan anak-anak dirumah dalam sebuah proses belajar adalah sebagai partner yang akan selalu bertumbuh dan berkembang bersama, seiring dengan berlalunya waktu. Jadi, selamat menikmati prosesnya, semoga tujuan dari apa yang sudah kita cita-citakan bersama anak akan tercapai.

Terima kasih sudah membaca, semoga bermanfaat.


Parung Panjang, 14/05/2017 08;35

Ariny Rizkina
(CIMI, Volunteer MHI, Co-Founder @rumah_arunika, Blogger and Mom of 3)

Comments

Popular posts from this blog

Ketika Sulung Perempuanku, Bertanya tentang Pubertas

6 Alasan Mengapa Ibu Harus Memijat Bayinya Sendiri

Support Group Sebagai Salah Satu Bentuk Support System Ibu