Imprinting and Resilience


Children See, Children Do and Children Survive

Anak-anak belajar dari lingkungan sekitar dan mereka juga mempelajari bagaimana cara bertahan menghadapi sebuah dampak dari dalam lingkungan, lewat apa yang mereka lihat dan keputusan yang akan mereka lakukan. Oleh karenanya, anak biasa disebut sebagai peniru ulung (imprinting)

Sudah banyak penelitian yang menuliskan bagaimana efek sebuah kedekatan hubungan antara anak dan orang tua, juga sangat berpengaruh pada bagaimana mereka kelak meniru setiap gerak-gerik orang tua dalam pola asuh dirumah. Bagian yang merupakan dasar dari sebuah hubungan dibangun, akan sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan kedekatan antara orang tua dan anak.

Yang perlu di mengerti adalah, sebuah kedekatan dalam hubungan, terbangun secara instingtif tepat setelah bayi lahir dan menjadi bagian dari kode genetik yang mereka bawa sejak dalam kandungan. Bayi yang baru lahir juga akan segera meniru objek yang berdekatan dengannya, dalam tingkatan yang sangat dalam, hal itu akan mempengaruhi sel, sistem syaraf dan koneksi otak secara langsung.

Kemudian proses imprinting atau meniru ini, juga bisa dipelajari dan dibiasakan dalam sebuah kegiatan pijat bayi. Ketika orang tua belajar menanamkan benih kasih sayang dan cinta pada anak-anak mereka, hal inilah yang akan anak-anak pelajari langsung. Saya memberi contoh, misalnya pada sesi pijat bayi sangat disarankan bagi orang tua agar meminta izin untuk menyentuh bayinya. Hal ini sangat erat kaitannya tentang bagaimana orang tua mengajarkan anak mereka bagaimana arti dari sebuah penghormatan dan sentuhan yang positif.

Secara keseluruhan, kegiatan pijat bayi juga mengajarkan arti bagaimana orang tua harus memiliki niat ikhlas dalam mengasuh anak-anaknya dirumah. Ketika orang tua sudah ikhlas, tanpa meminta jaminan dan pamrih pada anak-anak, maka pelajaran itulah kelak akan mereka lihat dan tiru.

Sejatinya, kemampuan meniru sangat terhubung dari pengalaman yang didapatkan, agar kita dapat memiliki kesempatan untuk memperbarui dan mengubah kebiasan juga sikap kita. Konsep seperti ini, kemudian akan menunjukkan kita pada sebuah konsep ketahanan (resilience). Seseorang yang mampu bertahan dapat diartikan sebagai mereka yang memiliki kemampuan dan kapasitas untuk mengatasi pengalaman masa lalu yang spesifik dan sangat menantang. Dan dapat menjadikannya seseorang dengan kehidupan yang memuaskan dan seimbang, dengan penghargaan dan nilai diri sendiri yang tinggi di lingkungan mereka.

Konsep ketahanan juga saling berkaitan dengan kegiatan pijat bayi, yang mengindikasikan bagaimana kualitas pekembangan kedekatan antara bayi dan orang tua. Dengan kedekatan yang terbangun, bayi akan bertumbuh dengan pelajaran tentang arti ketangguhan, bangkit dari pengalaman yang tidak menyenangkan dan membuat dirinya sendiri merasa aman dan nyaman.

Kegiatan pijat bayi dapat membantu para bayi untuk mengenali dan memutuskan secara signifikan pengalaman sehari-hari yang mereka dapatkan. Proses yang signifikan tadi, juga akan membantu bayi dalam membangun sebuah hubungan kedekatan yang mudah diprediksi dan diandalkan, sehingga dia akan merasakan sebuah kemelekatan yang aman.

Ada banyak sekali variabel kemungkinan yang mempengaruhi kebiasaan seseorang. Dari banyaknya observasi dan penelitian, sangat jelas bahwa pendekatan yang kita lakukan dalam kegiatan pijat bayi, setidaknya membawa dampak dan nilai sangat besar pada kebersinambungan antara orang tua dan bayi.

Parung Panjang, 6 Agusutus 2018/10.27

Sumber bacaan : Manual for Infant Massage Instructor by Vimala McClure (Founder of International Association Infant Massage)

Salam,

Ariny Rizkina
(CIMI, Volunteer MHI, Co-Founder @rumah_arunika, Blogger and Mom of 3)

Comments

Popular posts from this blog

Ketika Sulung Perempuanku, Bertanya tentang Pubertas

6 Alasan Mengapa Ibu Harus Memijat Bayinya Sendiri

Support Group Sebagai Salah Satu Bentuk Support System Ibu